14 October 2012

Persekutuan Instan

"Jikalau ada orang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan Dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." Wahyu 3:20

Jika dulu ada ungkapan, 'rumahku istanaku', sekarang ini beberapa orang mungkin semboyannya adalah 'mobilku rumahku'. Bukan hanya buku, sepatu, pakaian, atau jas yang bisa ditemukan di mobil. Bahkan selimut, perlengkapan makan, sampai ember pun dibawa di mobil. Jangan heran kalau begitu masuk ke dalam mobil, bisa tercium bermacam-macam aroma. Kadang aroma pelembut pakaian, kadang aroma makanan, kadang aroma pakaian kotor, dll. Jika ditanya kenapa harus membawa barang-barang itu, jawabannya adalah supaya praktis, karena tuntutan aktivitas membuat harus sering bepergian sambil tergesa-gesa.


Saat ini, gaya hidup seperti itu memang sudah makin membudaya. Di hari-hari ini, orang bisa menyetir mobil sambil sarapan, sambil menjawab telepon, bahkan sambil berganti pakaian dan sambil menonton TV. Di lain pihak, kita juga banyak menjumpai banyak restoran siap saji dengan layanan drive thru: pesan - ambil - pergi. Semua hanya dalam beberapa menit, tanpa perlu duduk menunggu juru masak mengolah makanan kita. Semua sudah siap, hanya tinggal dibawa pergi. Ya, hidup seolah selalu dilakukan terburu-buru.

Pertanyaannya, apakah gaya hidup terburu-buru itu juga diterapkan dalam persekutuan kita dengan Tuhan? mungkin saat teduh tidak ditinggalkan, tapi itu dilakukan dengan prinsip baca - doa - selesai, bahkan masih sambil menonton TV atau menjawab telepon. Dalam bacaan hari ini, Tuhan menggambarkan suatu persekutuan kita dengan-Nya seperti sebuah jamuan makan. Sebuah jamuan makan pastinya tidak dilakukan dengan terburu-buru, tapi penuh dengan keintiman dan kedekatan. Demikian juga, makanannya pun akan lebih lengkap dan berkualitas, bukan makanan siap saji alias junk food. Jika gaya hidup masyarakat zaman ini memuja segala sesuatu yang cepat, instan, dan praktis. Tuhan justru ingin kita menurunkan tempo untuk lebih menjalin persekutuan yang mesra dengan-Nya. Maukah anda melakukannya?

*Disadur dari: Renungan Spirit.

No comments:

Post a Comment